TIM BANTUAN MEDIS 110 FK UMI
TRAUMA INHALASI

Penulis : Keith A. Lefferty, MD.

Kepala Editor : Joe Alcock, MD.

Diperbarui : 8 Sep 2016

Diterjemahkan oleh : Ali Khomaeini, S.Ked

 

Trauma inhalasi adalah penyebab utama kematian akibat kebakaran. Hal ini menghasilkan trauma melalui beberapa mekanisme, termasuk  trauma termal untuk saluran napas atas, iritasi atau cedera kimia untuk airway dari jelaga, asfiksia, dan toksisitas dari karbon monoksida dan gas – gas lainnya seperti sianida.

 

Trauma inhalasi pada anak. Perhatikan banyak ciri khas trauma inhalasi yang kompleks dengan luka bakar (yaitu, luka bakar wajah, partikel karbon dalam rongga hidung, edema periorbital, rambut singeing). penempatan pipa endotrakeal dini sangat diperlukan untuk mengamankan patensi airway dan ventilasi yang memadai.

Gejala dan Tanda

Pada pemeriksaan fisik mungkin ditemukan :

·        Luka bakar wajah

·        Edema dari orofaring

·        Suara serak

·        Stridor

·        Lesi mukosa atas saluran napas

·        Sputum karbon

·        Gejala pada saluran napas bagian bawah adalah sebagai berikut :

·        Takipnea

·        Dyspnea

·        Batuk

·        Suara napas menurun

·        Wheezing

·        Rhonki

·        Retraksi

Sianosis mungkin ada. Namun, sianosis merupakan indikator yang tidak dapat diandalkan dari hipoksia karena baik karbon monoksida atau sianida menyebabkan sianosis.

Pada pasien asfiksia mungkin dapat ditemukan :

·        Depresi susunan saraf pusat, lesu dan penurunan kesadaran

·        Mudah marah, sakit kepala temporal yang berat, dan general weakness

·        Koma (hampir selalu pada keracunan CO)

Diagnosis

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan :

·        Pulse oksimetri dan CO-oksimetri

·        Analisa gas darah

·        Kadar karboksihemoglobin

·        Laktat

·        CBC

·        Foto Thoraks (pada pasien dengan gejala paru)

·        EKG

·        Enzim jantung serial (pada pasien dengan nyeri dada)

·        Tes fungsi paru

·        Laringoskopi direk dan bronkoskopi fiberoptik

Kadar carboxyhemoglobin dalam darah dan manifestasi klinis yang sesuai adalah sebagai berikut:

·        0-10% - Biasanya tidak ada gejala

·        10-20% - Nyeri kepala ringan, sesak atipikal

·        20-30% - Nyeri kepala berdenyut, gangguan konsentrasi

·        30-40% - Nyeri kepala berat, gangguan pikir

·        40-50% - bingung, letargi, sinkop

·        50-60% - gagal napas, kejang

·        70% - Coma, kematian

Kadar karboksihemoglobin darah mungkin tak mewakili tingkat keracunan CO karena oksigen diberikan kepada pasien sebelum kedatangan ke rumah sakit. Penggunaan normogram untuk tingkat ekstrapolasi pada waktu penyelamatan telah terbukti memiliki nilai prognostik.

Manajemen

Ketika pasien datang dengan trauma inhalasi, penilaian langsung dari airway pasien,breathing, dan sirkulasi harus dilakukan. Menyediakan akses IV, pemantauan jantung, dan oksigen tambahan dalam pengaturan hipoksia. Beberapa pasien yang bermanifestasi bronkospasme dapat diberikan bronkodilator. Ketika curiga cedera saluran napas atas, intubasi elektif dapat dipertimbangkan. Airway edema dapat berkembang selama 24-48 jam berikutnya dan dapat membuat kelak intubasi sulit bahkan tidak mungkin. Penelitian telah menunjukkan bahwa evaluasi awal bukanlah prediktor yang baik dari obstruksi jalan napas yang mungkin terjadi kelak.

Meskipun studi terkontrol menilai efek dari steroid pada berbagai bentuk pneumonitis kimia cukup mengecewakan, steroid telah diusulkan memiliki beberapa nilai dalam paparan berikut:

·        Oksida nitrogen (NOx)

·        Seng oksida (HC)

·        fosfor merah (RP)

·        Sulfur trioksida (FS)

·        Titanium tetraklorida (FM)

·        Politetrafluoroetilena (PTFE; Teflon)

Pasien dengan trauma inhalasi harus dipantau selama 4-6 jam di UGD. Mereka yang berisiko rendah untuk cedera, tanda vital dan temuan pemeriksaan fisik tetap normal biasanya dapat dikeluarkan pada follow up ketat dan instruksi untuk kembali jika gejala berkembang. Pasien dengan salah satu dari berikut harus dipertimbangkan untuk rawat inap:

·        Riwayat paparan ruangan tertutup lebih dari 10 menit

·        produksi sputum karbon

·        Arteri PO 2 kurang dari 60 mmHg

·        asidosis metabolik

·        tingkat carboksihemoglobin di atas 15%

·        Perbedaan oksigen arteri (100% oksigen) lebih besar dari 100 mm Hg

·        bronkospasme

·        odynofagia

·        luka bakar wajah sentral

Ventilasi mekanik mungkin diperlukan pada pasien dengan fungsi paru menurun, tingkat oksigenasi, dan ventilasi. Hal ini diberikan sebagai berikut:

·        Ventilasi tekanan positif dengan volume tidal yang rendah (3-5 ml / kg)

·        Tekanan positif akhir ekspirasi (PEEP), pada tekanan Plateau di bawah 30 cm

Kelainan neurologis dan riwayat kehilangan kesadaran adalah gambaran klinis utama yang digunakan untuk menentukan toksisitas CO yang berat  dan indikasi untuk hiperbarik oksigen (HBO) terapi. Selain itu penggunaan HBO diindikasikan pada pasien dengan tanda dan gejala berikut :

·        Base excess lebih rendah dari -2 mmol / L

·        Kadar CO lebih besar dari 25% (atau> 15% pada kehamilan, karena hemoglobin janin mengikat CO lebih kuat)

·        Tanda-tanda disfungsi serebellar

·        Disfungsi kardiovaskular

·        Edema paru·        Usia sangat tua atau sangat muda

Posted by : tbm110 on 17 Februari 2017
in
1996 - 2017 | Tim Bantuan Medis 110 FK-UMI. All rights reserved.